Selasa, 08 Juni 2010

Tembang macapat

Pengertian Tembang
Kata tembang dalam ragam bahasa jawa halus ( krama ) sama dengan sekar. Sekar dalam bahasa jawa krama juga berarti kembang ( dalam bahasa Indonesia bunga ). Kata tembang dan kembang ditinjau dari aspek makna terdapat kesamaan nilai. Kembang memiliki sifat indahmempesona, demikian pula denga tembang, juga mempunyai nilai estetik yang indah mempesona. Barang kali karena mempunyai sifat yang relatif sama inilah, kembang dan tembang mempunyai dasanama ( sinonim ) yang sama, yaitu sekar.
Menurut S. Padmosoekotjo ( 1960 : 25 ) yang dimaksud tembang atau sekar adalah reriptan utawa dhapukaning basa mawa paugeran tartamtu ( gumathok ) kang pamacane ( olehe ngucapake ) kudu dilagokake nganggo kagunan swara. Dalam bahasa Indonesia adalah karangan atau rangkaian bahasa yang menggunakan aturan – aturan tertentu yang cara membacanya harus dilagukan denga seni suara. Dari definisi diatas, aspek sastranya telah diterangkan lebih spesifik, yaitu bahwa kalimat yang terdapat dalam tembang mempunyai aturan aturan tertentu. Aspek lagu pada definisi ini belum diterangkan secara jelas.
Menurut S. Mawardi, memberi batasan tembang adalah mengku suraos reroncening suwanten ingkang mawi titilaras slendro utawi pelog sarta kinanthenan rumpakaning basa sumawana sastra ingkang gumathok. Dalam bahasa Indonesia artinya mengandung makna susunan suara yang menggunakan titi laras slendro dan pelog disertai dengan gubahan bahasa serta sastra tertentu.
Dari dua definisi di atas, definisi terakhirlah yang paling lengkap. Pada definisi ini telah disebutkan titilaras yang digunakan yang digunakan untuk melagukan sastra tembang yakni menggunakan titilaras slendro dan pelog. Walaupun demikian, definisi ini dirasa masih kurang lengkap. Suara yang bertitilaras slendro dan pelog yang dimaksud dalam definisi tersebut belum disebut dengan jelas asal atau sumber bunyinya. Hal ini perlu dijelaskan karena suara yang bertitilaras slendro dan pelog dari dari sumber bunyi yang berbeda mempunyai nama yang berbeda pula. Suara dengan laras slendro dan pelog yang dimainkan denga rincian gamelan sering disebut gendhing. Jelasnya, gendhing adalah komposisi lagu yang telah mempunyai bentuk tertentu yang dimainkan dengan menggunakan perangkat gamelan, sedangkan dalam tembang suara bertitilaras slendro dan pelog yang dimaksud adalah bersumber dari manusia ( suara manusia).
Dari uraian diatas tembang didefinisikan sebagai karangan atau rangkaian bahasa yang menggunakan aturan tertentu yang pembacaannya dilagukan dalam laras slendro dan pelog. Definisi ini dirasa lebih tepat.
c. Pengertian Tembang Macapat
Sampai saat ini pengertian istilah macapat yang tersebar di masyarakat adalah maca papat papat. Pengertian ini sebenarnya salah kaprah. Pengertian tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan. Pengertian tersebut lebih didasarkan pada teknik melagukan tembang macapat. Kebetulan ketika tembang tersebut dibaca, sering kali setiap empat wanda ( suku kata ) terjadi jeda untuk mengambil pernafasan.
Menurut Serat Mardawa Lagu karangan R. Ng. Ronggowarsito ( 1802 -1887 ) dan Serat Centhini karya Pakubuwana V, di Jawa Tengah terdapat empat macam lagu atau sekar, yaitu :
1. Maca sa lagu, dikelompokkan pada tembang gedhe kapisan
2. Maca ro lagu, dikelompokkan pada tembang gedhe kapindho
3. Maca tri lagu, dikelompokkan pada tembang tengahan
4. Maca pat lagu, dikelompokkan dalam tembang cilik ( alit ) yang popular disebut tembang macapat.
Dari uraian diatas dapat ditarik simpulan bahwa tembang macapat merupakan jenis tembang yang keempat, bukan maca papat – papat.
Dalam pembacaan tembang macapat dikenal adanya konvensi lagu winengku ing sastra. Dalam pengertian ini tembang macapat yang berfungsi sebagai waosan, aspek sastra lebih dipentingkan tanpa mengecilkan arti lagu. Jadi, secara teknik tidak diperkenanakan aspek sastra dinomorduakan hanya karena memenuhi kepentingan lagu. Dalam membawakan tembang macapt dengan setiap 4 wanda berhenti, sering terjadi pemenggalan kata sehingga dapat mengganggu makna sastra secara keseluruhan. Berdasarkan konvensi yang ada, pemenggalan lagu dengan acuan maca papat- papat tidak sepenuhnya dapat dibenarkan.
Macapat mempunyai ciri khas tersendiri, oleh karena itu macapat dapat diartikan “ lagu winengku ing sastra “, yaitu lebih dipentingkan sastranya daripada lagunya. Tembang macapat adalah tembang yang terikat oleh beberapa aturan – aturan tertentu, yaitu :
1. Terikat oleh banyaknya gatra, yaitu banyaknya baris dalam tiap bait tembang.
2. Terikat oleh guru wilangan, yaitu banyaknya suku kata dalam baris tembang.
3. Terikat oleh guru lagu yaitu jatuhnya suara akhir pada tiap gatra atau baris tembang. Dalam istilah lain diatur jatuhnya dhong dhing atau jatuhnya suara vokal ( a, i, u, e, o ).
4. Pada yaitu bait
5. Pupuh yaitu kumpulan sejumlah bait pada sebuah tembang
Adapun hal lain yang perlu diketahui dalam sekar macapat adalah :
1. Pada sekar macapat tidak terdapat istilah pada pala, tidak ada istilah lampah / pedhotan.
2. Tiap gatra sekar macapat tidak tentu jumlah suku kata atau guru wilangan
3. Jumlah suku kata pada setiap gatra sedikatnya 4 ( empat ) dan paling banyak 12.
4. Tiap gatra tidak menentukan pernafasannya.
5. Jumlah gatra pada setiap tembang tidak tentu, ada yang sama dan yang tidak sama.
d. Jenis – Jenis Tembang Macapat
Pengetahuan tentang jumlah tembang macapat yang beredar di kalangan masyarakat luas terdapat dua versi.Versi pertama menyebutkan bahwa jumlah tembang macapat ada delapan ( 8 ) macam. Dasar pemikiran dari pendapat versi pertama ini adalah identifikasi bentuk struktural pada sastra tembang macapat. Delapan macam tembang tersebut yang dimaksud adalah sebagai berikut :
1. Dhandhanggula
2. Sinom
3. Kinanthi
4. Asmaradhana
5. Pangkur
6. Mijil
7. Pocung
8. Durma
Versi kedua beranggapan bahwa jumlah atau jenis – jenis tembang macapat adalah sebelas ( 11 ) macam. Pendapat ini didasarkan pada ciri – ciri lagu tembang. Kesebelas tembang macapat yng dimaksud oleh pendapat versi kedua ini adalah sebagai berikut :
1. Dhandhanggula
2. Sinom
3. Kinanthi
4. Asmaradhana
5. Pangkur
6. Mijil
7. Pocung
8. Durma
9. Maskumambang
10. Megatruh
11. Gambuh
Dasar analisis kedua versi diatas berbeda. Dari dua dasar pemikiran yang berbeda kemudian melahirkan dua pendapat yang berbeda. Kedua pendapat tersebut sama – sama dapat dibenarkan.
Menurut Gunawan Srihastjarjo, seorang empu tembang dari Surakarta, tembang Gambuh kacatur ( keempat ), Megatruh dan Maskumambang yang dikelompokkan ke dalam tembang macapat, sebenarnya secara struktural dikategorikan ke dalam tembang tengahan. Pembauran ketiga tembang tengahan ke dalam tembang macapat ini lebih didasarkan pada pertimbangan identitas lagu. Ketiga lagu tembang tengahan tersebut dianggap mirip dengan lagu tembang macapat. Walaupun demkian, secara struktural ketiga tembang tersebut tetap dikelompokkan dalam tembang tengahan.
Jumlah tembang macapat yang ada adalah sejumlah 11 tembang. 11 tembang macapat tersebut adalah :
No Jenis Tembang Jml Gatra Guru Wilangan dan Guru Lagu
1. Mijil 6 10 i 6 o 10 e 10 i 6 i 6 u
2. Maskumambang 4 12 i 6 a 8 i 8 a
3. Kinanthi 6 8 u 8 i 8 a 8 i 8 a 8 i
4. Sinom 9 8 a 8 i 8 a 8 i 7 i 8 u 7 a 8 i 12 a
5. Dandhanggula 10 10 i 10 a 8 e 7 u 9 i 7 a 6 u 8 a 12 i 7a
6. Asmaradhana 7 8 i 8 a 8 e 8 a 7 a 8 u 8 a
7. Gambuh 5 7 u 10u 12 i 8 u 8 o
8. Durma 7 12a 7 i 6 a 7 a 8 i 5 a 7 i
9. Pangkur 7 8 a 11 i 8 u 7 a 12u 8 a 8 i
10. Megatruh 5 12u 8 i 8 u 8 i 8 o
11. Pocung 4 12u 6 a 8 i 12a
Dari tembang macapat di atas secara urut menjelaskan suatu daur hidup manusia, mulai sejak lair sampai dengan mati. Adapun filsafat yang terkandung dalam tembang macapat dapat di jelaskan sebagai berikut :
1.MIJIL
Mijil artinya lahir. Hasil dari olah jiwa dan raga laki-laki dan perempuan menghasilkan si jabang bayi. Setelah 9 bulan lamanya berada di rahim sang ibu, sudah menjadi kehendak Hyang Widhi si jabang bayi lahir ke bumi. Disambut tangisan membahana waktu pertama merasakan betapa tidak nyamannya berada di alam mercapadha.
2. MASKUMAMBANG
Setelah lahir si jabang bayi, membuat hati orang tua bahagia tak terperi. Tiap hari suka ngudang melihat tingkah polah sang bayi yang lucu dan menggemaskan. Senyum si jabang bayi membuat riang bergembira yang memandang. Setiap saat sang bapak melantunkan tembang pertanda hati senang dan jiwanya terang.
3. KINANTHI
Semula berwujud jabang bayi merah, lalu berkembang menjadi anak yang selalu dikanthi-kanthi kinantenan orang tuannya sebagai anugrah dan berkah. Buah hati menjadi tumpuan dan harapan. Agar segala asa dan harapan tercipta, orang tua selalu membimbing dan mendampingi buah hati tercintanya.
4. SINOM
Sinom isih enom. Jabang bayi berkembang menjadi remaja sang pujaan dan dambaan orang tua dan keluarga. Manusia yang masih muda usianya. Orang tua menjadi gelisah, siang malam selalu berdoa dan menjaga agar pergaulannya tidak salah arah. Walupun badan sudah besar namun remaja belajar hidup masih susah.
5. DHANDANGGULA
Remaja beranjak menjadi dewasa. Segala lamunan berubah ingin berkelana. Mencoba hal-hal yang belum pernah dirasa. Biarpun dilarang agama, budaya dan orang tua, anak dewasa tetap ingin mencobanya. Angan dan asa gemar melamun dalam keindahan dunia fana. Tak sadar jiwa dan raga menjadi tersiksa. Bagi anak baru dewasa, yang manis adalah gemerlap dunia dan menuruti nafsu angkara, jika perlu malah berani melawan orang tua.
6. ASMARADANA
Asmaradana atau asmara dahana yakni api asmara yang membakar jiwa dan raga. Kehidupannya digerakkan oleh motifasi harapan dan rasa asmara. Seolah dunia ini miliknya . Membayangkan dirinya bagaikan sang pujangga atau pangeran muda. Apa yang dicitakan haruslah terlaksana, tak pandang bulu apa akibatnya.
7.GAMBUH
Gambuh atau Gampang Nambuh, sikap angkuh serta acuh tak acuh, seolah sudah menjadi orang yang teguh, ampuh dan keluarganya tak akan runtuh. Belum pandai sudah berlagak pintar. Menjadikannya tak pandai melihat mana yang salah dan benar.
8.DURMA
Munduring tata krama. Dalam cerita wayang purwa dikenal banyak tokoh dari kalangan “hitam” yang jahat. Sebut saja misalnya Dursasana, Durmagati,Duryudana. Dalam terminologi Jawa dikenal berbagai istilah menggunakan suku kata dur/ dura (nglengkara) yang mewakili makna negatif (awon). Sebut saja misalnya : duraatmoko, duroko, dursila, dura sengkara, duracara (bicara buruk), durajaya, dursahasya, durmala, durniti, durta, durtama, udur, dst. Tembang Durma, diciptakan untuk mengingatkan sekaligus menggambarkan keadaan manusia yang cenderung berbuat buruk atau jahat. Manusia gemar udur atau cekcok, cari menang dan benarnya sendiri, tak mau memahami perasaan orang lain. Sementara manusia cendrung mengikuti hawa nafsu yang dirasakan sendiri (nuruti rahsaning karep). Walaupun merugikan orang lain tidak peduli lagi.
9.PANGKUR
Bila usia telah uzur, datanglah penyesalan. Manusia menoleh kebelakang (mungkur) merenungkan apa yang dilakukan pada masa lalu. Manusia terlambat mengkoreksi diri, kadang kaget atas apa yang pernah ia lakukan, hingga kini yang ada tinggalah menyesali diri. Kenapa dulu tidak begini tidak begitu. Merasa diri menjadi manusia renta yang hina dina sudah tak berguna. Anak cucu kadang menggoda, masih meminta-minta sementara sudah tak punya lagi sesuatu yang berharga. Hidup merana yang dia punya tinggalah penyakit tua. Siang malam selalu berdoa saja, sedangkan raga tak mampu berbuat apa-apa.
10.MEGATRUH
Megat ruh, artinya putusnya nyawa dari raga. Jika pegat tanpa aruh-aruh. Datangnya ajal akan tiba sekonyong-konyong. Tanpa kompromi sehingga manusia banyak yang disesali. Sudah terlambat untuk memperbaiki diri. Terlanjur tak paham jati diri. Selama ini menyembah tuhan penuh dengan pamrih dalam hati, karena takut neraka dan berharap-harap pahala surga. Kaget setengah mati saat mengerti kehidupan yang sejati. Betapa kebaikan di dunia menjadi penentu yang sangat berarti.
11.POCUNG
Pocung atau pocong adalah orang yang telah mati lalu dibungkus kain kafan. Itulah batas antara kehidupan mercapadha yang panas dan rusak dengan kehidupan yang sejati dan abadi. Bagi orang yang baik kematian justru menyenangkan sebagai kelahirannya kembali, dan merasa kapok hidup di dunia yang penuh derita. Saat nyawa meregang, rasa bahagia bagai lenyapkan dahaga mereguk embun pagi. Bahagia sekali disambut dan dijemput para leluhurnya sendiri. Berkumpul lagi di alam yang abadi azali. Kehidupan baru setelah raganya mati. Tak terasa bila diri telah mati.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar